Duka Cita di hari Sumpah Pemuda
Sabtu, 30 Oktober 2010
hari sumpah pemuda tahun 2010
Duka Cita di hari Sumpah Pemuda
Ciri Khas Kota Pontianak
Rabu, 27 Oktober 2010
Makna dari simbol-simbol lambang Pontianak
- Bentuk lambang berupa bulatan kubah
- Pada sisi sebelah kanan 23 lembar daun karet dan di sisi kiri 10 lembar daun kelapa
- Di tengah-tengah melintang garis khatulistiwa di atas sungai bercabang tiga
- Diantara daun-daun tersebut menyinar dari bawah ke atas 5 sinar dan pangkal sinar ditulis angka 1771
- Tulisan KOTA PONTIANAK membentang dari pangkal daun karet sampai kepangkal daun kelapa.
-Bentuk dari keseuruhan lambang daerah ialah bulatan kubah bertumpu pada pita bertulisan KOTA PONTIANAK,yang berarti KOTA PONTIANAK didirikan dengan ditandai berdirinya sebuah Masjid sebagai lambang Keagungan Tuhan Yang Maha Esa.
-Lalu 5 sinar yang menyinari dari bawah ke atas maksudnya adalah Pontianak merupakan kota bersinar atau di daerah garis Khatulistiwa yang didirikan tahun 1771 oleh Sultan Syarif Abdurrahman
-Garis ditengah maksudnya adalah Pontianak dilalui oeh garis 0 derajat atau garis Khatulistiwa dan sungai bercabang tiga itu adalah sungai Kapuas,seperti jika kita lihat dipeta
-Maksud dari 23 lembar daun karet dan 10 lembar daun kelapa adalah hari jadi kota Pontianak yaitu tanggal 23 bulan 10 atau oktober
-Daun karet dan daun kelapa menggambarkan sebagian kekayaan dari kota Pontianak adalah pohon karet dan pohon kelapa.
Asal-Usul Kota Pontianak
Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie adalah Pendiri dan Sultan pertama Kerajaan Pontianak. Ia dilahirkan pada tahun 1142 Hijriah / 1729/1730 M, putra Al Habib Husin, seorang penyebar ajaran Islam yang berasal Arab.
Tiga bulan setelah ayahnya wafat pada tahun 1184 Hijriah di Kerajaan Mempawah, Syarif Abdurrahman bersama dengan saudara-saudaranya bermufakat untuk mencari tempat kediaman baru. Mereka berangkat dengan 14 perahu Kakap menyusuri Sungai Peniti. Waktu dzuhur mereka sampai di sebuah tanjung, Syarif Abdurrahman bersama pengikutnya menetap di sana. Tempat itu sekarang dikenal dengan nama Kelapa Tinggi Segedong.
Namun Syarif Abdurrahman mendapat firasat bahwa tempat itu tidak baik untuk tempat tinggal dan ia memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mudik ke hulu sungai. Tempat Syarif Abdurrahman dan rombongan salat zuhur itu kini dikenal sebagai Tanjung Dhohor.
Ketika menyusuri Sungai Kapuas, mereka menemukan sebuah pulau, yang kini dikenal dengan nama Batu Layang, dimana sekarang di tempat itulah Syarif Abdurrahman beserta keturunannya dimakamkan. Di pulau itu mereka mulai mendapat gangguan hantu Pontianak. Syarif Abdurrahman lalu memerintahkan kepada seluruh pengikutnya agar memerangi hantu-hantu itu. Setelah itu, rombongan kembali melanjutkan perjalanan menyusuri Sungai Kapuas.
Menjelang subuh 14 Rajab 1184 Hijriah atau 23 Oktober 1771, mereka sampai pada persimpangan Sungai Kapuas dan Sungai Landak. Setelah delapan hari menebas pohon di daratan itu, maka Syarif Abdurrahman lalu membangun sebuah rumah dan balai, dan kemudian tempat tersebut diberi nama Pontianak. Di tempat itu kini berdiri Mesjid Jami dan Keraton Kadariah.
Akhirnya pada tanggal 8 bulan Sya'ban 1192 Hijriah,bertepatan dengan hari Senin dengan dihadiri oleh Raja Muda Riau, Raja Mempawah, Landak, Kubu dan Matan, Syarif Abdurrahman dinobatkan sebagai Sultan Pontianak dengan gelar Syarif Abdurrahman Ibnu Al Habib Alkadrie.
Sejarah lain
Sejarah pendirian kota Pontianak yang dituliskan oleh seorang sejarawan Belanda, VJ. Verth, dalam bukunya Borneos Wester Afdeling, yang isinya sedikit berbeda dari versi cerita yang beredar di kalangan masyarakat saat ini.
Menurutnya, Belanda mulai masuk ke Pontianak tahun 1194 Hijriah (1773 Masehi), dari Betawi. Verth menulis bahwa Syarif Abdurrahman, putra ulama Syarif Hussein bin Ahmed Alqadrie (atau dalam versi lain disebut sebagai Al Habib Husin), setelah meninggalkan kerajaan Mempawah mulai merantau. Di wilayah Banjarmasin, ia menikah dengan adik sultan. Ia berhasil dalam perniagaan dan mengumpulkan cukup modal untuk mempersenjatai kapal pencalang dan perahu lancangnya. Kemudian ia mulai melakukan perlawanan terhadap penjajahan Belanda.
Dengan bantuan Sultan Pasir, Syarif Abdurrahman kemudian berhasil membajak kapal Belanda di dekat Bangka, juga kapal Inggris dan Perancis di Pelabuhan Passir. Abdurrahman menjadi seorang kaya dan kemudian mencoba mendirikan pemukiman di sebuah pulau di sungai Kapuas. Ia menemukan percabangan sungai Landak dan kemudian mengembangkan daerah itu menjadi pusat perdagangan yang makmur, dan Pontianak berdiri.
FESTIVAL HARI JADI KOTA PONTIANAK yang ke -239